Pernah nggak sih kamu ngebayangin gimana rasanya jadi copet di tengah keramaian festival musik? Film terbaru garapan Edy Khemod ini bakal ngajak kamu masuk ke dunia gelap pencopetan yang dibungkus dengan komedi segar dan drama sosial yang mengena.
Operasi Pesta Copet resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026. Film yang diproduksi oleh Imajinari bersama Angin Segar dan Boss Creator ini langsung jadi perbincangan hangat pecinta film Tanah Air. Bukan tanpa alasan, karena film debut penyutradaraan Edy Khemod—yang juga dikenal sebagai drummer band Seringai—ini menghadirkan konsep unik yang jarang dieksplorasi di perfilman Indonesia.
Kisah Ijal dan Tekanan Ekonomi yang Menghimpit

Cerita berpusat pada Ijal yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan, seorang pemuda yang baru saja di-PHK dari pabrik tempatnya bekerja. Ditambah beban utang ibunya yang menumpuk, Ijal terpaksa putar otak demi bisa bertahan hidup di ibu kota yang keras.
Bersama sahabatnya Adut (Kristo Immanuel), Ijal awalnya mencoba berbagai pekerjaan serabutan, termasuk jadi badut. Tapi penghasilan dari pekerjaan itu masih jauh dari cukup. Di sinilah titik balik cerita dimulai—ketika Silet (Fauzan Lubis), seorang kenalan tongkrongan, menawarkan jalan pintas yang berbahaya: menjadi copet di pasar.
Dari sinilah petualangan gelap mereka dimulai. Awalnya hanya di pasar, tapi ide besar muncul ketika Ijal menyadari bahwa konser musik bisa jadi ladang copet yang jauh lebih menguntungkan. Coba bayangin aja, puluhan ribu orang berdesak-desakan, fokusnya ke panggung, dompet dan hp jadi sasaran empuk!
Baca juga: Biodata Iqbaal Ramadhan: Profil Lengkap, Karier, Film & Perjalanan dari CJR ke Layar Lebar
Perencanaan Matang ala Operasi Militer
Yang bikin film ini beda adalah bagaimana para karakter merancang aksinya dengan persiapan super serius. Nggak asal comot, geng copet ini sampai mempelajari seluk-beluk dunia festival musik—mulai dari istilah moshpit, skena musik, sampai kebiasaan penonton konser.
Melodi (Kawai Labiba), sepupu Ijal, berperan penting dalam membantu kelompok memahami dunia musik. Sementara Tia (Zulfa Maharani), mantan pacar Ijal, juga dilibatkan untuk memperbesar peluang kesuksesan operasi.
Mereka bahkan berlatih di konser-konser kecil sebelum akhirnya nekat melancarkan aksi pencopetan massal di Pestapora, festival musik terbesar di Indonesia. Tujuan akhir mereka: Pestapora 2025 yang mengundang puluhan ribu pengunjung.
Syuting di Tengah 30 Ribu Penonton: Tantangan Nyata
Nah, ini dia bagian paling keren dan berani dari produksi film ini! Tim produksi memutuskan untuk melakukan pengambilan gambar langsung di gelaran Pestapora 2025—bukan di set buatan, tapi di festival sungguhan dengan puluhan ribu penonton asli.
Bayangin aja, gue aja yang pernah nonton festival musik aja kadang susah gerak, apalagi harus syuting film di tengah-tengahnya. Produser Dipa Andika mengungkapkan kalau persiapan untuk syuting di Pestapora udah dilakukan sejak satu tahun sebelumnya. Tim harus mempelajari panggung mana yang memungkinkan untuk dijadikan lokasi syuting, mengatur adegan besar di tengah kerumunan yang nggak steril, dan semuanya harus dilakukan dalam waktu terbatas.
Edy Khemod sebagai sutradara bahkan bilang kalau adegan terakhir film—saat para pemain naik ke panggung—merupakan salah satu momen paling sulit karena waktu pengambilan gambar yang sangat pendek. Coba deh bayangin, di tengah festival yang lagi berlangsung, kamu harus mengarahkan aktor dan kru untuk mengambil adegan yang nggak bisa diulang!
Nggak tanggung-tanggung, proses syuting ini melibatkan sekitar 500 pemain tambahan atau extras. Jumlah sebesar ini menunjukkan skala produksi yang benar-benar ambisius untuk film debutan.
Pendekatan Mockumentary dan Teknik Spidercam Manual

Dari sisi visual, Edy Khemod bersama sinematografer Dicky Maland menggunakan pendekatan mockumentary untuk menangkap suasana dan skala adegan secara autentik. Ini tuh kayak gaya dokumenter palsu gitu, jadi penonton ngerasa kayak lagi nonton kejadian beneran.
Mereka juga menggunakan spidercam manual untuk mengambil gambar dari berbagai sudut di tengah keramaian festival. Biasanya kan spidercam tuh pake alat canggih gitu, tapi yang ini dioperasin manual sama krunya. Hasilnya? Adegan jadi terasa lebih hidup dan bikin kita ikut deg-degan kayak lagi ada di kerumunan itu.
Para Pemain dan Karakter yang Hidup
Selain barisan pemain utama yang udah disebut, film ini juga diramaikan oleh deretan nama beken seperti Marthino Lio, Arie Kriting, Indra Jegel, Cak Lontong, Indra Brotolaras, Arie Untung, Denny Cagur, Dita Fakhrana, Fajar Nugra, dan Gilang Dirga. Kehadiran mereka memperkuat dinamika cerita, khususnya interaksi antar karakter yang sama-sama berjuang di tengah kondisi sulit.
Yang menarik perhatian adalah penampilan Fauzan Lubis yang berhasil membuat karakter Silet terasa natural dan menakutkan sekaligus. Lewat cara bicara, gestur, dan pembawaannya, Fauzan berhasil menghidupkan sosok abang tongkrongan yang udah terbiasa mencari celah untuk bertahan hidup.
Sementara itu, Kristo Immanuel, Kawai Labiba, dan Zulfa Maharani juga mendapat pujian karena berhasil membangun chemistry persahabatan yang hangat di tengah kisah kriminal yang mereka jalani.
Lebih dari Sekadar Film Pencopetan
Operasi Pesta Copet nggak cuma ngasih hiburan dengan aksi-aksi seru dan komedi. Film ini juga mengangkat isu sosial-ekonomi yang dekat dengan realitas anak muda Indonesia. Lewat karakter Ijal dan kawan-kawan, penonton diajak melihat bahwa di balik tindakan salah, sering kali ada tekanan ekonomi yang mendorong seseorang mengambil jalan pintas berbahaya.
Produser Ernest Prakasa bahkan menyebut film ini sebagai salah satu produksi Imajinari dengan persiapan terpanjang, sejak pengembangannya dimulai pada 2023. Visi besar Ernest adalah menghadirkan suguhan yang fresh, nekat, dan berani—sebuah tontonan yang jarang ditemukan di bioskop Indonesia.
Nah, ini yang bikin gue makin penasaran sama film ini. Ternyata ide ceritanya berawal dari pengalaman pribadi Edy Khemod saat masih menjadi drummer Seringai. Suatu kali di Solo, ia dan personel band mendapat informasi tentang komplotan pencopet yang diduga sengaja datang dari Jakarta untuk beraksi di festival musik. Komplotan tersebut bahkan menghafalkan lirik lagu dan mengenakan atribut band untuk menyatu dengan penonton. Dari pengalaman nyata inilah Operasi Pesta Copet lahir. Keren banget kan?
Potret Skena Musik yang Autentik
Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada kemampuannya memotret kehidupan skena musik yang digandrungi anak muda. Detail-detail kecil seperti merchandise band yang dikenakan karakter—mulai dari The Adams, Teenage Death Star, The Jansen, hingga Seringai—membuat film ini terasa hidup dan relatable bagi pecinta musik indie.
Gue yang dulu sering nonton festival juga langsung ngerasa familiar banget sama suasana yang dibangun. Edy Khemod berhasil membangun atmosfer festival dengan baik, lengkap dengan penjelasan tentang perilaku penonton, budaya moshpit, hingga dinamika konser yang bikin penonton yang nggak terlalu akrab dengan festival musik tetap bisa mengikuti cerita.
Catatan Kritis untuk Penampilan Iqbaal Ramadhan
Meski mendapat banyak pujian untuk aspek produksi dan pendukung, film ini juga menerima catatan kritis, terutama terkait penampilan Iqbaal Ramadhan sebagai pemeran utama. Beberapa pengamat film menyebut kalau Iqbaal masih kurang meyakinkan dalam memerankan tokoh yang terdesak ekonomi.
Ada kesan bahwa fisik dan tampilan Iqbaal masih terlalu mulus untuk mewakili mereka yang benar-benar berjuang di garis kemiskinan. Gurat-gurat lelah dan keputusasaan yang seharusnya terpancar dari karakter Ijal dinilai masih kurang terlihat. Tapi di sisi lain, beberapa momen emosional yang dibawakan Iqbaal masih bisa diapresiasi.
Tayang di Bioskop dan Roadshow ke 11 Kota
Film berdurasi 113 menit ini mendapat klasifikasi R13+ dari Lembaga Sensor Film, artinya bisa ditonton oleh remaja usia 13 tahun ke atas. Sebelum dan sesudah penayangan, tim Operasi Pesta Copet menggelar roadshow ke 11 kota di Indonesia.
Kota Yogyakarta menjadi salah satu tujuan roadshow, di mana Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, dan Kawai Labiba berbagi proses kreatif di balik film. Kota Bandung juga jadi saksi "Geng Copet Keliling" yang menghadirkan para pemain untuk meet and greet dengan penggemar.
Kesimpulan: Film yang Berani dan Menghibur
Operasi Pesta Copet adalah film yang berani mengambil risiko dengan konsep unik perpaduan genre kriminal, komedi, dan drama sosial yang berlatar festival musik. Meski ada catatan kritis terhadap penampilan utama, aspek produksi, atmosfer, dan dukungan pemain pendukung berhasil menghidupkan film ini.
Yang paling berkesan dari film ini adalah kemampuannya membangun atmosfer festival yang autentik dan menyuguhkan cerita persahabatan yang hangat di tengah situasi sulit. Film ini jadi pengingat bahwa di balik kerasnya hidup, masih ada orang-orang yang bisa menjadi tempat pulang dan bertahan bersama.
Buat kamu yang suka film dengan konsep segar, musik keren, dan cerita yang dekat dengan realitas anak muda, Operasi Pesta Copet layak masuk daftar tontonanmu di bioskop!