Beberapa hari terakhir, linimasa sosial media saya benar-benar dibanjiri oleh satu nama: Nadin Amizah. Dan bukan tanpa alasan—pelantun “Bertaut” ini akhirnya merilis album penuh ketiganya yang bertajuk “Laika, yang Ditinggalkan” pada 28 Agustus 2026. Sudah tiga tahun kita menunggu, dan ternyata hasilnya sepadan.
Saya pribadi langsung penasaran begitu mendengar judulnya. Laika? Ternyata nama itu diambil dari kisah nyata seekor anjing betina yang dikirim ke luar angkasa oleh Uni Soviet dalam misi satu arah. Bayangkan, ia hanya bertahan hingga hari keempat karena kepanasan dan stres ekstrem di dalam kabin. Sedih, kan? Dari situlah Nadin mengangkat tema besar tentang kerinduan, kehilangan, dan luka yang dikemas dalam 11 trek lagu.
Baca juga: Profil Nadin Amizah, Musisi Indie yang Menaklukkan Hati Pendengar Lewat Lagu Penuh Makna
Yang bikin saya semakin merinding adalah cara Nadin memaknai sosok Laika. Dalam pandangannya, Laika adalah makhluk yang lahir dengan keinginan sederhana: dicintai, dirawat, dan mendapat kasih. Tapi nyatanya, ia hanya menjadi “alat” untuk memuaskan ambisi manusia. “Ia seharusnya mendapatkan kasih, dirawat, dan dicintai. Tetapi kemudian menjadi alat untuk memenuhi keangkuhan manusia,” ujarnya dalam sesi perilisan.

Lewat album ini, Nadin juga menyoroti isu yang dekat banget dengan realitas kita, yaitu fatherless country—kesepian anak-anak yang ditinggalkan figur ayah. Rasanya, hampir semua dari kita pasti pernah merasakan kehilangan atau ditinggalkan dalam satu titik kehidupan, dan Nadin berhasil membungkus perasaan itu dengan sangat jujur.
Salah satu lagu yang paling mencuri perhatian adalah “Reservasi Untuk Dua”. Liriknya berani dan blak-blakan:
“Dan jika neraka tempatku durhaka / ku yakin kau juga ku temu di sana.”
Buat saya, ini bukan ungkapan kebencian, melainkan bentuk kepedihan anak yang lukanya belum sembuh. Nadin juga menyelipkan realitas sosial lewat lagu “Ditemukan Sebuah Bangkai” yang terinspirasi dari kejadian ditemukannya jasad tanpa identitas saat banjir Jakarta tahun 2020. Sedangkan “Moonlight”—yang sudah ditulisnya sejak SMA—menjadi satu-satunya lagu berbahasa Inggris penuh di album ini.
Baca juga: Jarang Diketahui! Hubungan Nadin Amizah dan Vidi Aldiano yang Ternyata Kakak Ipar
Yang membuat album ini makin istimewa adalah kolaborasinya dengan 10 produser berbeda, termasuk Lafa Pratomo, Baskara Putra, Enrico Octaviano, hingga Feby Putri. Hasilnya? Ragam sonik yang lebih kaya dan nggak monoton. Album ini juga menjadi karya pertama Nadin yang dirilis di bawah label independennya sendiri, Sorai. Keren, kan?
Buat saya yang sudah mengikuti perjalanan Nadin sejak awal, album ini terasa seperti ruang aman buat siapa saja yang sedang berdamai dengan rasa kehilangan. Bukan cuma soal patah hati karena percintaan, tapi lebih dalam: soal rumah, figur orang tua, dan pencarian makna kasih yang kadang terasa nggak cukup.