Kalau selama ini vape identik dengan berbagai pilihan rasa dan bentuk perangkat yang makin beragam, ada sisi lain yang juga perlu diperhatikan. Bukan cuma soal nikotin, tetapi juga kemungkinan adanya zat yang sebenarnya bukan untuk dikonsumsi lewat rokok elektrik.
Salah satunya adalah etomidate dalam rokok elektrik. Nama zat ini mungkin masih terdengar asing bagi banyak orang. Etomidate sebenarnya dikenal sebagai obat anestesi yang digunakan dalam lingkungan medis. Persoalannya, zat tersebut ditemukan dalam produk vape yang beredar secara ilegal.
Buat pengguna yang melihat vape hanya dari kemasan atau rasanya, kondisi seperti ini tentu cukup bikin waspada. Kita tidak bisa langsung mengetahui kandungan sebuah cairan hanya dari aroma, warna, atau sensasi yang muncul ketika dihisap.
Apa Itu Etomidate?
Etomidate adalah obat anestesi yang digunakan dalam tindakan medis tertentu. Penggunaannya dilakukan dengan pemberian dan pengawasan tenaga kesehatan karena obat ini memang bukan bahan yang dirancang untuk penggunaan bebas.
Yang menjadi masalah adalah ketika etomidate pada vape digunakan dengan cara yang tidak semestinya. Zat tersebut dicampurkan ke dalam cairan rokok elektrik dan kemudian masuk ke tubuh melalui inhalasi.
Dari sini, istilah vape etomidate mulai mendapat perhatian. Pengguna mungkin mengira sedang memakai cairan vape biasa, padahal kandungannya bisa berbeda dari yang mereka bayangkan.
Efek dan Bahaya Etomidate dalam Vape

Penggunaan etomidate melalui vape dapat menimbulkan berbagai efek pada tubuh. Beberapa di antaranya meliputi mual, muntah, gangguan koordinasi, iritasi saluran pernapasan, kejang otot, hingga kehilangan kesadaran.
Bayangkan seseorang sedang menggunakan vape seperti biasanya, lalu tiba-tiba mengalami tubuh yang tidak terkendali atau kehilangan kesadaran. Situasi seperti itu tentu bukan efek yang bisa dianggap sepele.
Masalah lainnya adalah pengguna belum tentu tahu berapa banyak etomidate yang masuk ke tubuhnya. Pada produk ilegal, informasi mengenai kandungan dan konsentrasi zat bisa saja tidak jelas.
Karena itu, istilah bahaya vape mengandung etomidate perlu dipahami dalam konteks yang tepat. Risikonya bukan sekadar sensasi berbeda ketika mengisap vape, melainkan efek zat farmasi yang digunakan di luar konteks medis.
Baca juga: Jule Terseret Kasus Vape Etomidate, Ini Fakta-Faktanya
Bagaimana Etomidate Masuk ke Produk Vape?
Peredaran etomidate dalam vape diketahui berkembang melalui jaringan ilegal di sejumlah wilayah Asia. Jejaknya telah muncul di Tiongkok dan Hong Kong sejak 2023, kemudian fasilitas produksi ilegal dilaporkan ditemukan di Bangkok pada 2024.
Perkembangannya kemudian dikaitkan dengan sejumlah negara lain, termasuk Indonesia, Singapura, Kamboja, Makau, dan Selandia Baru.
Untuk Indonesia, jalur masuk produk yang mengandung etomidate disebut berkaitan dengan impor ilegal dari Thailand dan Malaysia. Hal ini membuat persoalannya semakin rumit karena bukan cuma menyangkut pengguna akhir, tetapi juga rantai distribusi produk ilegal.
Kalau melihat pola seperti ini, wajar bila peredaran vape ilegal ikut menjadi perhatian. Produk semacam itu bisa berpindah tangan dengan cepat, sementara konsumen belum tentu memiliki informasi yang cukup mengenai isi sebenarnya.
Kenapa Penggunaan Etomidate Perlu Diwaspadai?
Etomidate punya konteks penggunaan yang jelas di dunia medis. Ketika digunakan oleh tenaga kesehatan, pemberiannya berada dalam prosedur yang terkontrol. Kondisinya tentu berbeda jika zat tersebut dicampurkan ke cairan vape dan digunakan tanpa pengawasan.
Hal yang sering luput adalah soal dosis. Pengguna vape tidak selalu tahu konsentrasi zat yang ada di dalam cairan. Bahkan, bisa saja mereka tidak mengetahui bahwa obat keras dalam vape tersebut memang ada.
Ini yang membuat produk ilegal menjadi lebih berisiko. Kita mungkin membeli cairan karena rasa atau kemasannya terlihat menarik, tetapi informasi visual tersebut tidak bisa memastikan kandungan di dalamnya.
Baca juga: Gegara Vape “Ajaib”, Selebgram Jule Diciduk di Apartemen
Ketentuan Mengenai Bahan Tambahan Rokok Elektrik
Penggunaan bahan tambahan pada produk tembakau dan rokok elektronik juga memiliki ketentuan di Indonesia. PP No. 28 Tahun 2024 sebagai aturan pelaksanaan UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan mengatur penggunaan bahan tambahan tersebut.
Dalam Pasal 432 ayat (1), disebutkan:
“Setiap orang yang memproduksi produk tembakau dan rokok elektronik dilarang menggunakan bahan tambahan kecuali telah dibuktikan secara ilmiah bahwa bahan tersebut tidak berbahaya bagi kesehatan.”
Ketentuan ini memperlihatkan bahwa keamanan rokok elektronik tidak bisa dilepaskan dari kandungan yang digunakan di dalam produknya. Bahan tambahan bukan sesuatu yang bisa dimasukkan begitu saja tanpa memperhatikan aspek keamanan.
BPOM Menyoroti Penyalahgunaan Etomidate
Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM turut menyoroti penggunaan etomidate dalam rokok elektronik. Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyebut persoalan tersebut sebagai bentuk baru penyalahgunaan zat farmasi yang muncul melalui produk vape.
Ada pernyataan yang cukup menggambarkan kekhawatiran tersebut:
“Ini bukan lagi sekadar soal nikotin, tapi soal ancaman obat keras yang menyamar dalam asap manis.”
Ungkapan tersebut terasa relevan karena bentuk produknya memang dibuat menyerupai vape pada umumnya. Bagi orang yang tidak mengetahui kandungannya, produk tersebut mungkin terlihat seperti cairan vape biasa.
Padahal, ketika etomidate disalahgunakan, persoalannya sudah masuk ke ranah yang berbeda dari penggunaan rokok elektrik biasa.
Jangan Terpaku pada Rasa dan Kemasan
Ada kebiasaan yang cukup umum ketika memilih produk vape: melihat rasa, aroma, desain kemasan, atau sensasi setelah digunakan. Namun, untuk produk yang berasal dari jalur ilegal, hal-hal tersebut jelas belum cukup untuk memastikan keamanan.
Kasus vape mengandung etomidate menunjukkan bahwa kandungan yang tidak semestinya bisa saja muncul dalam produk yang tampilannya terlihat biasa.
Laporan mengenai etomidate dalam vape juga telah muncul di beberapa negara. United Nations Office on Drugs and Crime mencatat perkembangan penyalahgunaan zat tersebut, sementara Health Sciences Authority di Singapura pernah melaporkan kasus pengguna muda yang kehilangan kesadaran setelah menghirup vape yang mengandung etomidate.
Jadi, kalau selama ini vape dipandang hanya sebagai alternatif dari rokok konvensional, perkembangan ini menunjukkan ada persoalan lain yang patut diperhatikan. Etomidate dalam rokok elektrik bukan sekadar istilah yang sedang ramai dibicarakan, tetapi berkaitan dengan penyalahgunaan obat yang seharusnya digunakan dalam konteks medis.
Makin banyak informasi yang diketahui masyarakat, makin mudah pula mengenali risiko produk vape yang tidak jelas asal-usul dan kandungannya. Dalam situasi seperti ini, berhati-hati bukan berarti panik, tetapi memahami apa yang sebenarnya masuk ke tubuh sebelum menggunakannya.